loder

Kolaborasi Industri dan Akademik untuk Mendukung Perkembangan Teknologi Artificial Intelligence (AI)

Kamis (4/3) lalu, Teguh Eko Budiarto, CEO & Co-founder Prosa.ai berkesempatan untuk menjadi pembicara pada kolokium yang diadakan oleh Telkom University, Bandung, dengan topik “Apa yang dibutuhkan industri Artificial Intelligence (AI): Tantangan bagi dosen dan mahasiswa.”

Seperti yang diketahui bersama, teknologi AI tengah berkembang begitu pesat. Namun, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia yang berkecimpung di bidang AI terbilang cukup langka. Hal ini tentunya dapat menghambat transformasi digital yang diperlukan untuk memajukan bangsa. Mau tidak mau, baik dari sisi industri maupun dari sisi akademik harus beradaptasi dengan cepat. Atas dasar itulah, acara ini diadakan dengan tujuan untuk memberikan gambaran seperti apakah keterampilan yang dibutuhkan oleh industri di bidang AI kedepannya serta peluang penelitian seperti apa saja yang dapat dijadikan kolaborasi antara akademisi dengan pihak industri untuk mendukung perkembangan teknologi AI.

Dalam presentasi nya yang bertajuk High Education for Skills and Competencies of Indonesia AI Talents Needed by Industry, Eko memberikan gambaran setidaknya terdapat 5 tren AI pada tahun 2021, yaitu (1) Voice and language-driven AI; (2) AI and cloud adoption; (3) AI and marketing technology; (4) AI and healthcare; (5) AI and cybersecurity.

Ia menerangkan bahwa aset penting dalam industri AI selain data adalah talent itu sendiri. Lebih lanjut, Eko memaparkan bagaimana kolaborasi dan kerjasama antara universitas dan industri dapat berlangsung. Menurutnya, pembentukan kurikulum sangatlah penting. Dengan melibatkan industri dalam perumusannya, SDM yang dihasilkan akan lebih cocok dalam memenuhi kebutuhan industri. Perumusan kurikulum ini termasuk didalamnya adalah kolaborasi riset ilmiah antara industri dan universitas. Selain dari segi kurikulum, adanya program magang dari industri juga sangat membantu mahasiswa yang masih menempuh studinya. Hal ini membuat talent akan lebih siap sebelum terjun ke industri AI secara langsung. Oleh karena itu, menurutnya, kebutuhan akan SDM yang memadai bukanlah semata tantangan bagi mahasiswa dan dosen saja, melainkan juga tantangan bagi industri AI itu sendiri.

None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None
None